Apa yang Menarik dari Industri Oil And Gas?

Industri oil and gas banyak di minati orang karena katanya, sekali lagi katanya, ia memiliki  salary yang cukup mengiurkan. Ya, satu faktor itu yang banyak di jadikan orang sebagai patokan. Kalau ada yang bekerja di dunia oil and gas, biasanya orang besar, gajinya juga besar.

itulah yang menarik dari industri oil and gas, Walaupun tidak sepenuhnya salah pernyataan di atas, tapi orang baru melihat dari satu sisi aja. Sebenarnya ada disi lain yang perlu kita lihat dari orang yang bekerja di dunia oil and gas, dunia yang tentunya membedakan dengan dunia kerja lainnya. Berikut akan saya bagikan 3 hal yang saya dapatkan ketika training H2S level 2 ketika di site.

Ciri ciri industri di oil and gas adalah

1. Padat Modal

Salary Oil And Gas Industri
Kalau kita bicara salary atau gaji, tentu itu menjadi pertimbangan khusus yang menarik selaras dengan topik pembahasan yang pertama, padat modal.

Maksudnya apa dengan padat modal? dalam dunia oil and gas, tentu di butuhkan modal yang sangat sangat besar ketika pembuatan suatu plan atau unit revenery. Coba kita breakdown, pertama sebelum minyak itu di bor dan di ambil, ia akan dilakukan survei dan pencarian lokasi minyak, tentu survei tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Membeli peta, melakukan tinjauan dan survei lapangan, studi data dan literatur yang tak jarang pun harus membeli datanya.

Kalau memang sudah di dapat lokasinya, Ketika akan di lakukan pengeboran, maka di perlukan service company untuk ngembor di lokasi tersebut, butuh apa coba? modal lagi.

Lalu sebelum di putuskan untuk ngebor, maka di lokasi yang suspect tersebut lahanya perlu di bebaskan, dan pembebasan lahan tersebut ga kira kira biayanya. belum lagi yang saya tau, kalau kawasan itu mengandung hutan maka si company harus memberikan lahan untuk di tanami 2 x dari luasan lahan yang akan di gunakan untuk unit revenery. Misalnya, si company perlu membebaskan lahan sebanyak 4000Ha, maka ia harus memberikan lahan kepada negara (entah dimana di indonesia) sebesar 8000Ha untuk di tanami atau di jadikan hutan.

Itu baru masuk ke dalam perencanaan, belum ketika lahan itu akan di bangun. coba bayangkan, beli pipa pipa sebanyak itu dan sebesar itu apa ga butuh modal yang sangat besar? buat instalasinya, buat gedung nya, buat transportasinya dan lain sebagainya. Apa ga kira kira besarnya? makaya ia di katasan salah satu cirinya adalah padat modal.

2. Padat Tehnologi

Yang kedua dari ciri industri oil and gas adalah padat tehnologi. hal ini selaras juga dengan modalnya, karena dari tehnologi yang cangih maka di perlukan juga modal yang sangat besar. Ini yang menarik dari oil and gas kedua, yaitu kita berbicara mengenai tehnologi.

Ketika lahan sudah dapat atau sudah di tentukan. Tinggalah perencanaan untuk mengolah lahan tersebut menjadi untuk revenery. Maka akan masuk fase desigen, di design semua kemungkinan di study dan di perhitungkan. maka akan banyak membuthkan ahli ahli sipil, mekanikal, piping, isntrument, electric dan lain sebagainya.

Mereka perlu menterjemahkan desain mereka menjadi konsep mengunakan tools yang namanya software. sekarang kita lihat, berapa harga sewa untuk Autocad, PV Elit, Pro Tank, Staad Pro, PDMS, SP3D, Caesar, Auto Pipe dan lain sebagainya?

Mereka membutuhkan alat sofware sofware cangih agar tuntutan desain dapat terpenuhi dan faktor nomer 3 tidak terjadi. ini baru fase design nya, belum lagi ketika masuk fase konstruksi, akan banyak mengunakan dan mengaplikasikan tehnologi di dalamnya.


Banyak tehnologi baru yang di terapkan dalam industri ini, misalnya pengeboran minyak yang tidak lagi lurus melainkan dapat berbelok blok. Heran kan, gimana coba bisa ngebor pipa tapi si mata bor nya bisa belok? Tehnologi penyambungan ketika si pipa masih ada fluidanya, tehnologi blow down, solenoid valve, pigging, dan lain sebagainya. Liat contoh video dari youtube mengai hot tapping, tehnologi untuk merepare pipa yang rusak tanpa perlu di shutdown (si pipa masih ada gas nya di dalamnya).

breathing apparatus yang bentuknya kecil
Hal sederhana misalnya, tehnologi yang melekat pada karyawannya ketika melakukan inspeksi. seperti gas detektor, ia bisa mendeteksi gas beracun yang ada di area pekerja. Tujuannya, ketika gas tersebut release atau bocor, pekerja bisa selamat. nah, tehnologi gas detektor ini pun bermacam macam, walaupun alatnya kecil, tapi fungsinya live saving. Ada gas detektor yang biasa, multi gas detektor sampe ada gas detektor yang ada pompanya. semuanya tehnologi. Belum lagi, BA(breathing apparatus) yang bentuknya semakin ringkas dan sederhana. Tentunya, semakin tinggi tehnologi, semakin banyak juga biayanya. Lagi lagi, padat modal dan padat tehnologi saling berkaitan.

3. Padat Resiko

Dua hal di atas, memang mengiurkan dan menyenangkan di dunia oil and gas, bikin orang pengen berbondong bondong masuk ke dunia oil and gas. Tapi jangan salah, ada satu faktor lagi yang terkhir dari oil and gas, yaitu padat resiko.

Kesalahan sedikit dan sekecil mungkin pada pengerjaan, bisa berakibat fatal untuk satu plan. Makanya, savety benar benar di tekankan dalam dunia oil and gas. Bahkan pada waktu konstruksi sekalipun, ada seseorang yang bertindak fatal, ia bisa di keluarkan dari projeck. Tujuannya, tentu savety yang utama, agar karyawan lain tidak mengulagi hal yang serupa.

Satu faktor yang tadi di sebutkan misalnya, ngebor miring. Coba kalau tidak di perketat savetynya, apa yang terjadi.. Lapindo. Lumpur lapindo yang sampe sekarang tidak ada habisnya. Justru dari kesalahan yang mungkin tidak di perhitungkan sebelumya, atau bisa jadi si pengerjaanya tidak benar benar berpengalaman sehingga bila terjadi masalah justu akan fatal akibatnya.

Padat Resiko dalam Oil And Gas

Apalagi coba? berapa banyak kota mati di dunia, yang justru dari kesalahan yang terjadi dalam dunia oil and gas. Silahkan main main ke wikipedia. Makanya, untuk menghindari semua fatality itu, di perlukan perencanaan dan pengerjaan yang baik, engineer engineer terbaik di turunkan untuk mendesain dan menghitung kekuatan pipa, stress analysis misalnya. belum lagi saat pengerjaan, setiap pengelasan selalu di check hasilnya untuk memastika bawah itu sempurna, tidak terjadi keretakan atau frature lainya. Makanya, dalam dunia oil and gas, pengecheckan bisa banyak jalurnya, revisi gambarnya bisa sampai banyak hanya untuk memastikan semua itu aman dan tepat.

Kalau kecelakaan, sudah banyak contohnya dan ceritanaya di dunia ini. Dan terus terang saya tidak mau mengalaminya, tapi yang pernah saya alami dan ga mungkin banyak juga yang tau. Kalau di duina oil and gas juga bisa terjadi demostrasi bahkan sampai diluar nalar, terutama pada fase kontruksi.


Protes

Yang saya alami waktu itu sangat cepat, hari sabtu nda ada apa apa tau tau ada ribut ribut, ada seseorang bilang ayo pulang, ada demostrasi. Saya pikir cuma main main, tapi ternyata masanya sudah banyak dan mulai mengejar semua orang office. akhirnya semua lari tunggang langang, kocar kacir, bahkan tim security pun dibuat tidak mampu bertindak. Bebener bener pengalaman berharga dalam mencari sesuap nasi, sampai harus mempertaruhkan nyawa. Gambar di atas hanya ilustrasi, tapi itu benar benar terjadi di lain tempat.

Dan ngga cuma satu ternyata, saya banyak denger dari senior senior saya, malah ada yang mengerjakan dulu waktu di daerah konflik, untuk pengerjaannya saja perlu pengawalan aparat dan mengerjakan sembuyi sembuyi. Untuk point pertama dan kedua, salary dan tehnologi, tentu banyak yang mau, tapi kalau sudah mengenai resiko nda semua orang akan mau. Dan masih bayak cerita di balik menariknya industri oil and gas.

Semua Hal Mengenai Stopper Support Piping

Semua Hal Mengenai Stopper Support Piping
Stopper adalah jenis support yang digunakan untuk menahan arah axial, ia dikenal juga dengan nama limit support. untuk mengetahui apa itu arah aksial, sialahkan di baca di artikel saya mengenai nama dan arah tengangan pada pipa.

Sebenarnya, untuk stopper sendiri di tentukan oleh stress analyst engineer untuk critical line (jalur pipa yang kritis). Seorang designer biasanya menentukan stopper support hanya untuk preliminary, permulaan, sebelum di hitung oleh stress engineer. Setelah pipa itu di hitung, maka ia akan di tentukan dimana letak stopper atau limitnya pada satu sistem pemipaan oleh stress engineer.

Yang Perlu anda Tau mengenai Stopper Support

Namun yang akan saya bahas mengenai stopper di sini adalah beberapa hal mengenai stopper support yang perlu anda tau. Case case yang terjadi dan juga saya temui agar kita semua bisa mengambil pelajaran darinya, entah anda seorang engineer, orang lapangan atau siapapun yang ingin belajar.

1. Stopper di Tentukan dari Perhitungan

Seperti pernah di singung sebelumnya, kalau stoper itu pada dasarnya adalah di tentukan oleh stress engineer. Jadi peletakan atau penentuan stopper mutlak haknya stress engineer untuk pipa yang kritis.

Pada dasarnya, fungsi stopper itu untuk membagi kedua arah pipa menjadi sama rata. Misalnya, ketika pipa itu cukup panjang, maka fungsi stoper itu untuk membagi arah pergerakan pipa supaya seimbang antara kedua sisinya. Oleh karenanya, ketika pipa itu panjang maka biasanya letak stopper itu di tengah, kecuali ada pertimbangan lainya. Diantara dua pipa yang di apit loop, maka biasanya stoppernya pun letaknya di tengah. tujuannya, gaya dari expansi pipa semua tercover oleh loop dengan sama rata. Namun bisa saja peletakannya tidak tepat di tengah tengah, dengan pertimbangan loop yang tidak simetris atau lain sebagainya.

Stopper At Center of Straight Pipe
Dulu waktu mengerjakan stress analysis, saya di berikan tips oleh senior saya untuk mengetahui letak stopper pada pipa yang cukup panjang pada caesar. Caranya beri resting semua dulu pada pipa tersebut (ingat, hanya resting, tanpa adanya guide), kemudia liat di ouput caesanya dimana letak displacement axialnya yang paling kecil, disitulah letak stopernya. Cara ini cukup ampuh, karena hasil akhir load dari stoppernya cukup kecil di banding diletakan di lain tempat.

Stopper bisa saja tidak di letakan di tengah dengan pertimbangan khusus seperti space untuk expansinya tidak cukup (karena akan clash dengan pipa lain), atau pertimbangan seperti di yang akan di bahas di bawah, yaitu clash (bentrok). Namun semuanya punya konsekwensi, ketika stopper tidak di letakan di tempat seharusnya maka loadnya akan semakin besar, pertimbangannya mampukan si support atau structure yang menopang stopper tersebut dapat mengakomodir load dari stoppernya.

2. Stopper dari Tack Weld

Seperti pernah saya bahas di kesalahan yang sering terjadi pada fase konstruksi, dimana tack weld sering menjadi stopper yang tidak sengaja terbentuk. Bahkan lebih tepatnya ancore (karena disamping menahan arah axial, ia juga menahan arah lateral). Satu tack weld bisa menahan beban sampai dengan satu ton, kalau structure tersebut tidak dapat menahan beban segitu, bisa jadi structurenya yang rusak. Misalnya tackweld terjadi pada support yang berbentuk gawangan, maka ia bisa miring terdorong oleh pipa yang berexpansi.

Lawannya case yang di sebutkan di atas, saya pernah menemukan case kalau stopernya itu hanya di tackweld di shoe. belum di las sempurna di channel yang akan digunakan oleh stoppernya. ini juga bisa berakibat rusaknya stopper atau bahkan sistem pemipaan, karena beban yang harus di tahan oleh stopper tidak semuanya tercover karena minimnya las lasan. Ini tugah seorang line checker untuk memeriksa keseluruahan las lasan, bukan hanya di lihat bentuknya saja sudah terpasang namun kualitasnya (tertama las lasanya) tidak di periksa.

3. Modifikasi Stopper yang Clash


Modifikasi Stopper Yang Clash Karena Braching
Di desain, bisa sangat berbeda dengan actualnya. faktornya, bisa jadi karena desainya kurang akurat (tidak mempertimbangkan hal hal kecil seperti bracing) atau memang terjadi sedikit deviasi ketika di lapangan. Case yang saya temukan adalah, si stopper itu clash dengan beam untuk pipe rack, ya kebanyakan stopper clash dengan structure di pipe rack.

Pada dasarnya, tim structure itu telah mempertimbangkan load dari pipa yang mereka terima dari piping info (semua sheet yang menunjukan berapa beban dari pipa yang terjadi di sana). Tujuannya, untuk menghitung dan merencanakan si structure untuk pipe racknya (beam dan coloumnya) agar kuat menopang pipanya, baik beban kosong atau beban ketika pipa itu terisi fluida.

Piperack tersebut nantinya kalau memang akan di pasang stopper di posisi tertentu, beban dari stopper dapat di akomodir oleh beam karena telah di perhitungkan oleh team structure. Kalau beban stopper cukup besar, maka team structure mempersiapakan (atau menguatkan) beam tersebut dengan braching. Namun pada kenyataanya, braching itu letaknya sedikit ketengah dari beam sehingga untuk pemasangan stopper menjadi sangat sulit.

4. Stopper dengan GAP

Stopper dengan Gap Terbatas
Ada stopper jenis tertentu yang merupakan special support, karena stopper tersebut memiliki GAP. kalau memang stress enginer terlah menentukan stopper dengan gap (sela sela) di sana, maka itu harus dilaksanakan. Stopper dengan no gap dapat mengakibatkan beban berlebih pada structurenya. Ada dua tipe gap pada stoppernya, gap di arah axialnya dan gap untuk arah lateralnya.

Pada dasarnya, stopper yang hanya di beri tanda stopper (tanpa guide) pada stress sketch, maka stopper itu harus di beri ruang (gap) untuk bergerak bebas ke lateralnya. Gambar di atas, sebenarnya sudah benar waktu pemasangan dan penempatan stoppernya. Namun ketika di pasang fire proofing, si tukangnya tidak memberika ruang yang cukup untuk stopper bergerak kesamping. Akahirnya fire proofingnya harus di coak. 

Adanya Gap pada stopper bisa karena pertimbangan load yang berlebih, atau karena nozzle yang conect ke pipa bisa fail tanpa ada gap, bisa karena sifat natural pipa yang bergerak, atau ada beberapa pertimbangan lain dari stress engineernya.

5. Imbas dari Adanya Stopper Adalah Termal Expansi

Menyambung dengan point pertama yang sudah di bahas. Ketika pipa di tahan di satu sisi, maka ia akan bergerak ke arah yang tidak di tahan. Hal ini sudah wajar sekali, justru yang jadi pertanyaan, kenapa pipa bergerak?

Expansi Pipa Karena Stopper
Sebenarnya bukan bergerak dalam artian yang sebenarnya, pipa bergerak di sini maksudnya adalah berexpansi. Sama halnya dengan rel kereta, seperti yang kita pelajari waktu di Sekolah dasar, ketikita benda logam kena panas atau mengalami perubahan suhu, ia akan memuai. Istilah lain memuai dalam pipa ini adalah berexpansi. Kenapa berexpansi? ya kembali lagi, karena terkena panas.

Expansi pipa karena panas bisa terjadi akibat sengatan matahari, namun yang lebih tepat adalah karena fluida yang ada di dalamnya. Kalau temprature fluidanya cukup tinggi, maka pipa akan berexpansi ke arah yang tidak di tahan oleh stopper. Seperti gambar di samping, lihatlat warna merah, itu mengilustrasikan kemana arah pipanya nanti ketika berexpansi. Dimana, sisi keduanya telah di pasang stopper support. 

6. Missing Stopper after hydrotest 

Ini pengalaman yang menarik yang saya temui, setelah di hidrotest kan tidak boleh dilakukan pengelasan di pipa tersebut. kadang ada aja pipa yang lupa atau stopper nya tertingal, sehingga stoppernya belum di pasang. kalau ada shoe nya si enak, stopper bisa di instal di shoe nya tanpa ada pengaruh ke las lasan ke pipa yang telah di hidrotest. tapi casenya, ada saja stopper yang kelupaan di pasang setelah pipa itu di hidrotest.

Oleh karena itu, saya bilang checking checking & checking itu sangan penting, terutama oleh seorang engineer yang menentukan atau mendelivery isometrik kelapangan. kalau di isometrik itu ada stoppernya, berarti kesalahan missing stoper terletak pada orang lapangan. Namun kalau ternyata di isometrik tidak di sebutkan stoppernya dan di lapangan juga tidak di pasang, maka keslahan pada engineernya karena ia lupa ngechek kembali. Ini bisa fatal akibatnya.

Missing stopper, stopper tidak komplit

7. Stoper tidak komplit 

Case yang saya temui, ada juga stoper itu terpasang hanya pada satu sisi saja. kanan saja misalnya, sisi kiri nya tidak atau belum terpasang. Kalau ini, biasanya kesalahan ada pada orang lapangan yang tidak memasang lengkap stoppernya.

Lagi lagi saya bilang, checking checking dan checking itu penting. Walaupun yang membuat kesalahan bisa jadi karena orang lapangan, kalau engineeringnya tidak memeriksa dengan baik. Kejadian fatal karena stopper ini bisa sangkutkan ke departemen engineering. Untungnya, stoppernya ini ada di shoe, jadi bisa dilakukan pengelasan walau pipa sudah di hidrotest. Tapi sekali lagi, kita harus benar benar waspada dan teliti untuk instalasi stopper support di lapangan.

Pengertian Upstream Down Stream dalam Piping Instrument Diagram

Pengertian Upstream Down Stream dalam Piping Instrument Diagram
Mengenai Upstream dan Downstream pernah saya bahas di artikel sebelumnya, namun pengertian upstream down stream tersebut lebih umum dalam pengolahan oil and gas. Saya menyebutkan bahwa, upstream adalah proses explorasi sedangkan downstreamnya adalah proses pengolahan.

Namun, pengertian upstream dan downstream juga berkembang di berbagai tempat, oleh karenanya pergertiannya pun tidak sama. Dan kali ini saya akan mencoba membahas mengenai beberapa pengertian upstream dan downstream di bidang piping lainnya, salah satunya di piping instrument diagram.

Upstream downstream pada PID

Dalam PID, berkembang pula istilah upstream dan downstream. Karena di dalam PID terdiri dari berbagai macam line (yaitu jalur pipa), maka upstream dan downstream tersebut adalah istilah yang melekat untuk line yang ada di PID. Untuk sedikit memahami PID, silahkan baca artikel di Memahami PID.

Upstream adalah line dimana ia pertama kali muncul, yaitu dimana line tersebut born (lahir dalam PID). loh bukanya semua line akan muncul dalam PID? ya memang benar, dalam satu PID akan ada banyak line. Namun yang di maksud upstream line dalam PID di sini, adalah ketika line tersebut cukup panjang, dan berhubungan ke PID selanjutnya. Jadi satu line tersebut, di sebutkan dalam dua atau lebih lembar PID.

Misalnya contoh berikut, Berikut adalah PID A.
PID Upstream
Lihat line 041-LG-71003-4"-0S3-I, dalam PID A (lihat warna balok kuning 042-PID-4003-001, ini menunjukan halaman atau nomer dari PID), dia line ini mulai muncul (atau lahir) yang kemudian line ini nyambung ke PID selanjutnya di PID B (042-PID-4004-001), maka upstreamnya line 041-LG-71003-4"-0S3-I adalah di PID A. Bukan di PID B, karena lahir atau pertama kali munculnya yaitu di PID A. Kita bisa lihat pula dari arah garisnya, kalau di PID A, arahnya arah keluar (menuju PID selanjutnya), Sedangkan di PID B, arahnya adalah arah datang (dari PID A).

Sambil sedikit memperdalam mengenai PID, ketika kita mencari line, sebenarnya kita sudah di permudah dengan kode yang ada setiap keluar dan masuk nya PID (Tanda nomer 1). kalau di lihat di contoh di atas, maka kodenya adalah 2244. kode ini akan sama ketika keluar dan masuk dari satu halaman PID ke halaman PID selanjutnya,kode atau angka ini akan mempermudah kita dalam mencari line dalam suatu PID. Apalagi kalau line tersebut banyak sekali, kita akan di permudah dengan mengetahui patokan nilai ini.Kode ini adalah unik, jadi hanya satu di sebutkan untuk satu koneksi, tidak mungkin ada dobel kode.

PID Downstream
PID B
Di sisi setelah kode yang di bahas di atas, adalah halaman PID (tanda nomer 3). jadi kita akan tau lanjutan dari line ini (line 041-LG-71003-4"-0S3-I) ke PID berapa. Di samping itu, di bagian bawahnya adalah sistem atau keterangan lain dari sistem yang akan di tuju dari line tersebut. Yang jelas, ketika membaca PID, kita harus mencari tau dulu legend nya. karena semua kode dan informasi dari PID, dapat di temukan di Legend PID.

Setelah kita menemukan upstreamnya di PID A, lalu dimana downstream dari line 041-LG-71003-4"-0S3-I. Yaitu lawannya berarti ada di PID B. Ingat, upstream hanya satu, namun downstream bisa lebih dari satu. Misalnya, kalau si line ini nyambung ke lebih dari 2 PID, maka sisanya adalah merupakan downstreamnya.

Upstream Downstream pada PSV

Sebenarnya, upstream dan downstream pada psv mirip dengan yang ada di PID. ya memang karena sistem line di PSV sendiri pasti ada di dalam PID. Namun, pada PSV upstream dan downstreamnya biasanya memiliki nama (line) sendiri, lalu bagaimana membedakanya?

PID upstream downstream pada PSV

Mudah saja, kita bisa menterjemahkan upstream downstream secara terminologi. Upstream, dari kata up dan stream, UP artinya naik. Berarti dimana line tersebut yang mengarah naik alirannya, itulah upsreamnya. Bisa juga di lihat dari PSVnya, kalau line itu sebelum PSV, maka line itu adalah upstreamnya. Lalu cara tau sebelum dan sesudahnya? lihat di PID, di sana ada arah alirannya.

Sedangkan downstreamnya, down nya adalah turun, jadi aliran di downstream biasanya turun dari PSV ke header atau sub header dulu. Itu untuk PSV dengan close system, dimana presure lebihannya di tampung kembali ke header atau subheader. Sedangkan untuk PSV open system, berarti upstreamnya teteap sama. Upsteramnya adalah pipa sebelum PSV dimana alirannya masuk ke PSV. sedangkan downstreamnya adalah pipa di mana dari PSV yang mengalirkan presure ke atmosfer. Bagaimana? sudah cukup paham mengenai upsteream dan downstream?

Kesalahan Yang Sering Terjadi Pada Fase Konstruksi

Pada fase konstruksi, dimana semua rancangan dari enginering sudah mulai di buat, akan banyak sekali sekali kesalahan yang terjadi. Memang tidak ada yang sempurna dalam sebuah pengerjaan, tapi yang ingin saya sampaikan di sini adalah bagaimana kita mempelajari beberapa kesalahan yang sering terjadi pada fase konstruksi dengan tujuan kita tidak membuat kesalahan tersebut. Dan pada akhirnya, kita bisa meminimalisir kesalahan yang terjadi.

Wah sepertinya sudah lama sekali dari terakhir saya update tulisan di blog ini, kangen juga rasanya menulis kembali. Setelah beberapa waktu lalu dapet pengalaman berharga di site (lapangan). Rasanya tidak sabar untuk membagi pengalaman di blog saya yang sederhana ini. Walaupun, memang bukan sebagai orang yang paling berpengalama dalam membagi ilmu, tapi paling tidak, ada yang bisa saya bagi. Mudah mudahan bisa menjadi manfaat bagi para pembaca yang mampir.

Di tulisan pertama saya ini, mungkin tidak akan secara sistematis dan detail dalam membahsa objectnya. Ya sebagai pemanasan di samping itu sambil saya mencoba kembali mengingat dan merumuskan semua pengalaman yang terjadi selama di site.

Konfigurasi Support

Konfigurasi support adalah hal yang pertama saya masukan dalam kesalahan yang sering terjadi dalam fase construction. Karean banyak kesalahan yang terjadi bukan saja dari sisi construction, tapi kesalahan tersebut di mulai dari fase engineringnya. Misalnya, konfigurasi Guide dan Stopper yang tidak sesuai pada gambar, maka hal tersebut pula yang di ikuti oleh pekerja di lapangan.

Ingat, benar tidak nya gambar di isometrick, itulah yang akan di kerjakan oleh orang lapangan. Orang lapangan tidak mungkin mengecek apakah isometrik ini benar atau keliru, pokonya isometrik yang sudah di tangan, itulah yang di kerjakan. Dilapangan tidak mungkin membawa laptop untuk mengechek gambar, jangankan laptop, HP saja tidak di perbolehkan masuk pada fase fase akhir konstruksi.

Kita harus maklum lah, orang lapangan itu pekerja berat. Mereka harus memotong plat, mengelas, mengerinda dan lain sebagainya. Tenaga mereka habis untuk itu semua, belum lagi cuaca yang panas, jadi mereka ga sempat untuk ngecek gambar. Oleh karena itu , orang engineering lah yang memastikan bahwa gambar tersebut benar. Ingat, checking checking dan chekcing.

Kesalahan sederhana dalam isometric, bisa berkibat fatal di lapangan. Ok kalau pipa itu non critical, tidak perlu di hitung stress analaysisnya oleh setress engineer. Tapi kalau pipa itu critical, terlebih pipa itu besar atau di terletak di elevasi yang tinggi, akan sangat makan waktu ketika membongkarnya atau memodifikasi support tersebut.

Dari sisi engineering sudah di bahas, sekarang kita menegok ke kesalahan dari pihak construction (atau orang lapangan). Contohnya adalah dummy seperti gambar di samping, apa yang keliru? yang keliru adalah dummy tersebut berukuran sangat panjang, hampir 5 meter dari CL pipe nya. Loh apakah bermasalah dummy yang terlalu panjang?

Kalau anda memahami Stress analysis, dummy ini akan bermasalah. Ia akan meyebabkan fail pada sistem. Dummy yang terlalu panjang, terlebih ada konfigurasi lain seperti stopper atau guide di dummy. Ia akan fail, gagal atau rusak.

Dummy sendiri paling tidak ketinggianya 300-500 mm dari CL pipenya. Kalau lebih dari itu, bisanya di beri support lain di bawah dummy, entah Tpost atau support structural lainya. Biasanya, hal tersebut sudah tercapture oleh stress engineer dan seharusnya sudah di corporate oleh designer dalam bentuk isometric.

Biasanya, orang lapangan suka menggampangkan. Dari pada susah bikin Tpost di bawah dummy, dibuatlah dummy yang sekalian panjang biar sekalian kerja. Hasilnya ya seperti di samping. Oleh karena itu, orang engineering pelu untuk mengechek hal seperti ini, dan kalau memang perlu harus di jelaskan kepada suppervisornya. Dan biasanya memang ada bagian tertentu dari engineering yang ngecek ngeck, namanya line checker.

Las Lasan

Las lasan adalah hal kedua yang sering terjadi selama fase konstruction, hal sederhana namun bisa berakibat fatal. Dua hal yang saya ingin bicarakan mengenai las lasan yang ada kaitanya pula dengan stress engineer. Pertama mengenai Tack weld.

Tack Weld

Tack weld atau las titik memang tidak bisa dipungkiri amat sangat di butuhkan ketika proses pengelasan berlangsung. Fungsinya, untuk mempermudah atau menjaga object agar tetap di center dan tidak berubah. Fungsi tack weld pada dasarnya hanya sementara, ketika lang lasan utama terlah terbentuk, tack weld ini akan di hilangkan.

Pada prakteknya, tack weld ini lupa untuk di bersihkan. Bisa jadi karena si weldernya lupa, atau karena orang yang bertugas membersihkannya tidak melakukan. Karena, dalam satu tim pengerjaan support di lapangan, bisanya terdiri dari weldder, fitter, tukan membersihkan, dan bahkan helper. Jadi bisa jadi, orang yang bertugas lupa untuk membersihkan.

Lalu apa permasalahannya? masalaha nya adalah, satu tack weld bisa endure (menahan) beban sampai dengan satu ton. Nah, gambar di atas saya ambil dari bawah shoe pipe. Karena di tack weld, maka pipa itu bisa berfungsi sebagai stopper atau bahkan anchor. Bahanya, kalau pipa tesebut di desain untuk bergerak, maka pipa nya bisa melengkung karena tertahan oleh stopper (yang tidak sengaja terbentuk dari tack weld).

Incomplete Weld

Lasan yang tidak lengkap menjadi permasalah selanjutnya. Gambar di samping adalah gambar dari guide yang kalau kita teliti, las nya hanya pada kedua ujungnya, sedangkan untuk tengahnya tidak lengkap. Lasan pada support yang tidak lengkap, terlebih pada stopper. akan berakibat menurunya kondisi desain dari supprt tersebut, yang misalnya ia seharusnya mampur untuk menahan beban 600kg, jadi hanya bisa menahan 200kg misalnya.

Yang terjadi adalah, nantinya support tersebut akan jebol. Kalau cuma supportnya tersbut yang jebol mungkin tidak jadi masalah, tapi kalau di situ ada flange dan berakibat kebocoran, tentu akan menjadi masalah besar.


Clash Pipe

Selanjutnya adalah pipa yang clash atau bentrok. Di lapangan adalah hal yang berbeda ketika berada di fase engineering. Ketika di engineering, setelah kita memodelkan pipa, kita bisa melihat hasilnya di Navis atau program yang sejenis. Bahkan, kita bisa melihat atau mengextrak mana saja pipa yang calsh.

Di lapangan, hal yang berbeda terjadi. Ada pipa yang clash dengan strcuctrure, equipment, suport bahkan ada pipa yang clash dengan pipa yang lain. Bisa saja pipa itu sudah terpasang rapih, baru sturcture di pasang, atau sebaliknya. Bisa jadi, pipa sedang di pasang lalu ada komponen (part) yang kurang jadi di hold dulu, lalu kemudian setelah akan di pasang kembali ada pipa lain yang menutupi. dan macam macam kejadiannya.

Di lapangan, pemasangan pipa akan di bagi per sistem. Dan setiap orang dalam sistem tersebut akan berlomba untuk menyelesaikannya, yang kadang yang penting pipanya bisa terpasang dan segera di serahkan ke pihak lainya, comisionling atau bahkan ke owner. yang kadang pipanya geser sedikit atau tidak sesuai ukuran di isometric orang lapagan tidak terlalu menghiraukan, yang penting jobnya selesai. dan ketika pipa orang lain datang untuk di pasang, ternyata sudah tertutup oleh pipa sebelumnya. Han itu sering sekali terjadi.

Pada gambar yang saya share di atas, pipa tersebut insulationnya clash oleh bracing dari sipil. Bisa jadi, orang yang memasang pipa tersebut sudah mengangap Ok pipanya sudah rapih dan ga clash. Namun, ia lupa, kalau pipa tersebut adalah pipa insulation. Sehingga, ketika orang yang bertugas memasang insulasi datang, ia sedikit kerepotan. Ya di buat gampang aja, dia cowak sedikit insulasi yang clash dan urusan jadi beres. Padahal, kalau kita mau telititi, isulasi yang clash tersebut berpotensi akan menjadi stopper bagi pipa tersebut.

Cara Mengetahui Rating Flange Berdasarkan ASME B16.5

Cara Mengetahui Rating Flange Berdasarkan ASME B16.5
Penah penasaran bagaimana cara menghitung dan mengetahui rating flange? Saya pun penasaran. Berawal dari menulis artikel, jenis jenis flange yang di dalamnya ada salah satu berbedaan flange di bedakan beradasarkan rattingnya. Seperti kita tau, ratting standar menurut asme b16.5 adalah 150#, 300#, 400#, 600#, 900#, 1500# dan 2500#. Pertanyaanya adalah, bagaimana kita tau rating tersebut?

Apakah ratting tersebut hanya kita ambil data mentahnya dari PID? dari orang proses? saya kira tidak juga, tidak semua hal kita serta merta ambil mentah dari orang proses, kadang pun kita perlu tau, darimana rating tersebut dan sampai batas mana rating tersebut dapat di gunakan.

ASME b16.5 tahun 2003 tetang flange rating

Apa batasan rating flange?

Rating pada flange sebenarnya merupakan batasan dari pressure yang bekerja (working pressure) dalam pount per squerec inches, disingkat psi. tapi orang lebih cenderung simple menyebutnya dengan pound.

Menurut ASME b16.5, kita mengetahui rating pressure (Pr) sebuah flange dari hubungan Antara working pressure (PT) dan alowabel stress (st) nya dengan rumusan :

rumus flange rating berdasar asme b16.5
Sekarang bagaimana caranya menentukan flange rating, dengan melihat ASME B16.5. Misalnya, kita punya data dari department proses sebagai berikut :

Diketahui :
Material : A105
Temp : 100F
Max Desing Pressure : 740Pig

Ditanya :
Ratting?

Sebelum menjawab pertanyaan, ASME yang saya gunakan disini adalah ASME tahun 2003. Kemudian hal yang pertama yang harus di cari untuk mengetahui rating flange adalah, silahkan kita lihat di table list material specification, yaitu table 1A (silahkan masuk ke halaman 4). Kita temukan, A105 itu masuk dalam kelompok material berapa, ternyata masuk dalam kelompok material 1.1

tabel 1A asme b16.5 untuk mengetahui flange rating

Setelah ketemu, kita cari material kelompok 1.1, atau table 2-1.1 (silahkan ke halaman 23). Maka kita akan menemukan table di bawah ini. Untuk data di atas, ternyata masuk ke range 300 lb, berarti masuk rating 300#. Mudah bukan, jadi dar data yang di atas kita temukan rating flangenya adalah 300#.

tabel group 1.1 asme b16.5 untuk mengetahui flange rating
Kadang kala, kita perlu mengkonfersi inputan sesuai dengan nilai yang tertera pada ASME. Dari data di atas, Temp 100F = 38C, 740 Psig = 51 Bar. Berarti benar kalau nilainya berada pada range 300#.

Berapa saja nilai rating yang umum

Rating sendiri terdiri dari beberapa nilai, yaitu rating 150, 300, 400, 600, 900 sampai dengan yang tertingi 2500. Biasanya untuk menujukan kalau itu rating, diberikan akhiran ‘#’ (crash) atau pagar. Rating yang biasa di gunakan adalah 150#, 300#, 600# sampai dengan 900#. Untuk rating 400# dan 2500# saya sendiri belum pernah menememukannya dalam sebuah project, mungkin karena pengalaman saya yang masih minim.

Pengertian Rating flange

Apabilan flange rating menunjukan nilai 150#, tidak serta merta design pressurenya 150 Psi.

Nilai rating 150#, 300#, 400#, 600#, 900#, dst bukanlah nilai design pressurenya, nilai tersebut hanya penggolongan class rating, yang secara tidak langsung berhubungan dengan nilai design pressure.

Dan nilai pressure yang disajikan di table ASME b16.5 murni untuk menahan pressure pressure internal saja. Kalau ada external load, (force dan moment) di flange tersebut karena perilaku pipa yang disambungkan, atau valve yang tergantung pada posisi tersebut. Nilai design pressurenya juga berkurang karena sebagian kemampuan flange di gunakan juga menahan external load.

Oleh karenanya lebih agar lebih mudah, kita membulatkan nilainya ke atas agar external pressurenya dapat terakomodir.

Pressure Temperature Rating

Telah di jelaskan bahwa untuk menentukan rating flange di butuhkan nilai temperature dan pressurenya, yang biasanya telah di tentukan oleh orang proses. Kemudian kita tentukan materialnya apa, lalu cari di table untuk mendapatkan nilai ratting flangenya.

Pressure Temperature Rating untuk flange
Namun untuk mencari satu persatu dalam taabel ASME cukup memakan waktu, agar lebih mudah silahkan lihat table di atas untuk mempermudah kisaran pressure yang bekerja pada rating tertentu.
Ada satu aturan umum yang sering digunakan, dimana tekanan operasional sebuah flange pada temperature ambient adalah kira kira 2.4 x nilai ratingnya.

P max = Rating x 2.4

Misalnya, pada rating 300 maka kemampuan untuk menahan pressurnya adalah sekitar 720 (300*2.4), begitu seterusnya. Namun, aturan ini hanya bisa di terapkan untuk flanger rating diatas 300.