Arsiran Pada Piping Isometric Drawing

Masih membahas mengenai Isometric drawing, kali ini saya akan menyingung mengenai arsiran pada piping isometric drawing. Seperti saya singgung dalam artikel membaca gambar isometric drawing, satu routing bisa menjadi dua pengertian atau pemahaman tergantung dari arsiran pada isometric drawing nya.
Perbedaan Arsiran Pada Isometric

Di artikel sebelumnya, satu routing bisa memiliki dua arah, berbeda arsiran akan berbeda routing. Lihat gambar A di atas, dari gambarnya menunjukan kalau si pipa bergerak ke arah samping secara horizontal, berarti dari utara agak sedikit serong ke timur. Kenapa? karena arsirannya horizontal, maka pipa tersebut bergerak horozontal (sudut nya). Kalau di istilahkan dalam matematika, ia bergerak diagonal sisi, yaitu tepat nya pada sisi atas.

Pada isometric pipa B, arsiran nya vertical, hal ini menandakan ia membentuk sudut yang arah sudutnya vertical. Yang artinya, ia tetap satu sumbu mata angin yaitu ke arah utara, tapi sedikit menengadah ke atas (bergeraknya vertical). Kembali pada istilah metematika, ia merupakan diagonal sisi juga, yang membedakan sisi nya sisi samping.

Apakah cuma sampai situ? ternyata tidak, masih ada satu lagi yaitu isometric tipe C. Seperti gambar di bawah. Pertanyaanya, ia bergerak ke mana dari sumbu X?

3 Jenis Arsiran Pada Isometric

Diagonal dalam Kubus Untuk Isometric
Di pipa isometric tipe C, maka pipa akan bergerak (membentuk sudut) gabungan, ya horizontal ya vertical. Ia mengarah ke diagonal, berbeda dengan sebelumnya yang merupakan diagonal sisi, maka di isometric C ini merupakan diagonal ruang. Apa itu diagonal Ruang? agaknya perlu kembali membaca buku SMA, kalau saya istilah sederhana, yaitu garis yang menghubungkan secara diagonal di dalam kubus (melintasi kubus tersebut). Berarti dalam kubus di atas, ada berapa diagonal ruang? jawabannya ada 4, yaitu AG, CE, BH, DF. Dengan satu catatan, gambar di samping bukan isometric view, melainkan hanya untuk memudahkan pemahaman mengenai diagonal yang digunakan pada isometric.

Arsiran Isometric Menentukan Arah

Lalu bagaimana kita tau kalau pipa tersebut bergerak secara diagonal mendatar atau vertical? jawabanya ya dari arsirannya. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana menggambar isometric tersebut? jawabanya kembali lagi yaitu harus benar dahulu arsirannya. 

Arah Isometric Pada Hexagonal
Untuk menggambarnya sebenarnya mudah, mudah di sini maksudnya adalah untuk arah dari pipa nya. Sedangkan penggambarang seperti fitting elbow, flange dan lain sebagainya, perlu latihan dan kejelian. Kembali ke arah isometric, untuk membuatnya bayangkan saja sebuah rumah tawon yang berbentuk hexagon. kemudian setiap sudut nya di hubungkan melalui garis diagonal. Berarti kita akan memiliki 3 garis diagonal, yaitu AD, BE, dan DF. Setiap garis garis ini akan mewakilkan arah mata angin masing masing, termasuk juga verticalnya.

Berarti kalau di pecah (dari titik tengahnya), maka akan ada 6 garis. kalau adalam ilmu kebatinan, di kenal dengan 6 penjuru mata angin, yaitu atas bawah, utara selatan, dan timur barat. Ya seperti itulah arah pipa dalam isometric walau tidak ada hubungannya dengan ilmu kebatinan.

Pada intinya, kalau arah sudutnya dalam sumbu vertical, maka arsirannya adalah vertical. Kalau selain vertical, berarti arah atau sudut yang di bentuk dari isometric adalah horizontal (horizontal di sini sesuai mata angin). Kalau ada gabungan arsiran, maka ia menunjukan gabungan antara vertical dan horizontal. Semoga semakin paham mengenai arsiran pada isometric

Membaca Gambar Isometric Piping

Isometric drawing atau gambar isometrik adalah gambar routing dari sistem pemipaan yang di buat dalam selembar kertas 2D dengan pandangan isometric sehingga menimbulkan kesan gambar yang realistik (3D). Pada isometric mewakili tampilan plan dan elevation dalam satu kertas, sehingga seolah olah tampilannya menjadi 3D. Dengan demikian, akan lebih jelas membaca dan memahami gambar isometric.

Pada dasarnya, membaca gambar isometric adalah mudah karena tampilannya yang sudah 3D sehingga orang dapat mengira-ira seperti apa bentuknya. Kesulitannya hanya karena bisa jadi belum terbiasa dalam membaca gambar tersebut. Selain belum terbiasa, kesulitan paling besar adalah ketika gambar membentuk sudut tertentu dan kemudian di gambarkan mengunakan arsiran. Di sudut tertentu inilah biasanya orang tidak mudah untuk memahami gambar atau routingnya.

Arah Mata Angin Piping Isometric
Sebelum membahas lebih dalam mengenai membaca gambar isometricnya, perlu di tekan kan disini saya tidak akan membahas piping isometric drawing secara lengkap. Mengenai bagian atau penjelasaan tentang seperti apa piping isometric drawing, pernah saya singgung di artikel sebelumnya. Dan kali ini saya akan fokus untuk membahas bagaimana membaca routing nya dari piping isometric drawing.

Arah Garis Isometric Sesuai Mata Angin

Untuk membaca isometric drawing, sebelumnya kita perlu memahami dulu arah mata angin pada isometric drawing. Untuk arah utara, biasanya di tuliskan di pojok kiri atas dan menunjuk ke arah diagonal. Seperti halnya arah mata angin yang kita kenal, Utara Timur Selatan Barat akan di tampilkan di isometric. Pada intinya, selain garis vertical (atas bawah), semua pipa itu akan mengarah ke arah mata angin, tinggal di urutkan saja dari Utara Timur Selatan sampai ke Barat sesuai dengan arah utaranya di isometric. Lalu apa fungsi dari garis vertical tersebut? garis tersebut menunjukan elevasi dari pipanya, sampai ketinggian berapa pipa tersebut. Sisanya, merupakan pipa dengan arah horizontal.

Latihan Membaca Isometric 1
Sekarang mari langsung ke prakteknya membaca gambar isometric. Saya punya gambar isometric dengan garis merah di atas, pertanyaannya, seperti apa routing nya di mulai dari tanda X?

Routing nya adalah, pipa tersebut bergerak ke Barat (horizontal), kemudian ia naik ke atas, lalu ia bergerak ke utara (horizontal), lalu ke Timur dan kemudian dia turun. Bisa di pahami sampai sini? Perlu di ingat, untuk memahami routing diatas, perlu di ketahui dulu patokannya, yaitu arah utaranya. Kebetulan di isometric di atas -dan biasanya isometric di indonesia, arah utaranya ke pojok kiri atas. Ada kalanya arah utaranya ke pojok kanan atas.

Latihan Membaca Isometric 2

Latihan Isometric 2

Kira kira routing pipanya nya seperti apa di mulai dari tanda X?

Routing nya adalah, pertama yaitu flange yang arahnya face nya ke timur di sambung dengan elbow yang turun ke bawah. Lalu elbow tersebut bertemu valve yang di apit oleh flange yang arah pipanya ke bawah.  setelah ke bawah, ia bertemu elbow yang routing nya ke arah barat. lalu sedikit naik dan kemudian routing nya ke arah utara. Paham sampai di sini?

Tapi ingat ya, saya mencoba membantu memahami baru dari segi arah, belum dengan ukurannya. Sebab untuk ukuran menurut saya gampang sekali, karena tinggal sesuai angkanya, asal routing pipanya sudah paham. Kalau routing pipanya saja belum paham, panjang atau ukuran jarak tersebut menjadi tidak berguna sama sekali.

Masih di gambar yang sama, kalau kita menelisik seperti apa bentuk aslinya, maka akan terlihat kira kira bentuk routing pipa nya seperti berikut :
Ilustrasi Piping Dari Isometric Sebelumnya


Beberapa contoh diatas, adalah pipa yang searah dengan mata angin, atau kalau pun ia berbelok, maka ia akan belok dengan tegak lurus, dengan sudut 90 derajat. Bagaimana kalau ia belok dengan sudut yang bukan 90 derajat? dan bagaimana pula penggambaran isometricnya?

Loh memang ada ya routing pipa yang membentuk sudut? jawabannya banyak. Lalu kenapa ia bisa membentuk sudut? ada banyak alasan atau pertimbangan, misalnya minimum spool tidak terpenuhi, makanya perlu untuk di bentuk sudut. atau bisa jadi karena pertimbangan flexibilitas dari stress engineer, atau bisa jadi untuk menghemat komponen fitting. Berikut contohnya.

Pipa Isometric Membentuk Sudut
Missal, contoh di atas adalah salah satu contoh routing dimana gambar yang sebelah kiri, dimensi dari A ke B ternyata kurang dari 1000mm. Disamping itu, jarak dari B ke C pun tidak fitting to fitting melainkan ada sedikit spool. Kadang, dalam satu project ada minimum spool, yaitu panjang minimum satu potong pipa, dalam hal ini contoh nya minimum spool nya adalah 1 meter. A ke B, tentu tidak masuk, apalagi dari B ke C, minimum spoolnya tidak masuk. Solusinya seperti apa? solusinya ada pada gambar di samping nya, sebelah kanan nya.

Jadi, gabungkan saja dari A langsung ke C. dalam hal ini menghemat satu fitting yaitu elbow di B tidak lagi di gunakan. Lalu apakah jarak dari A ke C bisa lebih dari 1000mm? tentu bisa, kenapa? ingat kembali tereoma pitagoras, jarak diagonal tentu lebih panjang dari jarah horizontalanya.

Karena pipa di tarik langsung dari A ke C, maka ia tidak 90 derajat dari horizontalnya. Artinya ia membentuk sudut tertentu yang kita tidak tahu, perwakilan sudut tersebut akan di gambarkan lewat arsiran seperti gambar di samping kanan nya.

Berita baiknya, kita tidak perlu susah susah menghitung pangjang dengan tereoma phytagoras ketika kita hanya akan membacanya, karena semua sudah otomatis dari sistem, oleh karenanya kenapa kita harus sofware SP3D atau PDMS? karena praktis hasilnya. Nanti tinggal di extrack dari model, jarak horizontalnya termasuk diagonalnya akan muncul di isometric, praktis!. Namun kalau anda sebagai engineer suatu saat butuh sudutnya, anda perlu tau cara menghitungnya.

Latihan Isometric 3

Latihan Membaca Isometric 3
Lalu bagaimana dengan isometric routing disamping dimulai dari tanda X?

Yaitu pipa bergerak ke atas kemudian ke arah utara namun sedikit naik, lalu ke arah Timur dan bertemu dengan flange, kemudian spectacle dan valve. Gambar isometric di atas adalah gambar lengkap, artinya ia juga di lenkapi dengan dimensi atau jaraknya. Senada dengan pembahasan sebelumnya, terlihat pipa yang diagonal (704mm) lebih panjang daripada pipa yang horizontal (609mm) pada wilayah yang di arsir. Untuk tahu nominalnya, silahkan di cross check dengan teori phytagoras.

Bagaimana Arah Arsiran Isometric?

Untuk arsiran, arah arsirannya pada isometric tergantung dari pipa itu kearah mana? kalau pipa itu ke atas naik nya (membentuk sudut nya) maka arsirannya ya naik, dalam hal ini vertical seperti contoh sebelumnya. Kalau pipa nya ke arah utara namun ia bergerak ke timur sedikit, maka arsiranya pun horizontal.

Perbedaan Arsiran Pada Isometric
Sekarang kita masuk ke contoh, satu routing bisa terbaca dua persepsi terngatung arsirannya. Coba lihat isometric A dan B, lihat garis merahnya, kedua pipa ini typical namun ia berbeda dalam arsiran.  Bisa di pahami mana kira kira yang bergerak ke utara (murni)?

Bila di lihat, routing pipa A, dari X ia bergerak tidak ke utara, melainkan sedikit serong ke timur. Sudut yang di bentuk dari pipa A adalah sudut horizontal dari utara ke timur. Berbeda dengan pipa B, dari arah X ia bergerak ke utara, tapi sedikit ke atas. Jadi sudut yang di bentuk adalah sudut vertical, yaitu antara utara dan ke atas, kalau di istilah jawa, yaitu sedikit "ndangak". Apa yang membedakan keduanya? arsirannya. 

Semoga artikel sederhana ini dapat menambah paham mengenai bagaimana cara membaca piping isometric

Mengapa Plant North berbeda dengan North Sesungguhnya?

North Plant adalah arah utara dari plant atau project yang berlaku hanpa pada project tersebut. Arah utara tersebut merupakan arah utara hasil kesepakatan, bukan merupakan arah utara yang sebenarnya sesuai dengan kompas. Lalu kenapa arah utara plant north berbeda dengan arah utara sesunnguhnya? dalam artikel ini akan saya bahas.

Kenapa Arah Utara Selalu Menghadap Ke Atas?

Arah Utara Pada Peta
Utara merupakan arah yang umum digunakan sebagai penunjuk arah, contoh sederhana misalnya di peta, arah utara selalu di sebutkan dan biasanya di tunjukan dengan arah ke atas. Bahakan di HP kita, ketika mengunakan gmap maka utara pun di sebutkan. Pertanyaan selanjutnya, kenapa arah utara yang di jadikan patokan? kenapa juga menghadapnya ke atas?. Sebenarnya semua ini pada dasarnya adalah sebuah kesepakatan bersama yang menunjukan bahwa bumi berputar relatif menuju bintang utara. Terlebih, ketika kita melihat bintang biasanya kita mengadap keatas, begitulah filosofinya.

Kembali ke pokok permasalahan, kalau utaranya keatas, kenapa utara plan (yang biasanya ada di isometric atau plot plan) tidak sama dengan utara sesungguhnya?

Karena biasanya North plant di sesuaikan dengan lokasi project nya. Ketika akan ada sebuah project baru, maka hal yang pertama di tentukan adalah kita membuat koordinatnya. Kenapa koordinat menjadi penting? karena untuk menentukan lokasi. Pada suatu project yang luasnya berhektar hektar, maka hal yang pertama di tentukan adalah titi 0 nya. Titik nol disini, bukan hanya dari horizontalnya saja, melainkan pun untuk verticalnya, yang dalam hal ini elevasi.

Lokasi Adalah Relatif

Terminologi lokasi kalau kita sadari adalah posisi relatif terhadap benda yang lainnya. Maksudnya seperti apa? misalnya kita ingin menyebukan dimana lokasi heat exchanger? maka kita bilang ia berada 50 meter sebelah Main Building (gedung utama). Atau kalau lebih detail, kita menyebutnya ia berada 30 meter ke utara dan 40 meter ke timur dari Main Building. Kondisi penyebutan seperti ini akan tidak efektif, olehkarenanya dibuatlah sistem koordinat. Tinggal menyebutkan koordinatnya, maka kita akan tau lokasinya.

Plant North Vs True North
Namun ada kalanya sebuah plant, ia memiliki tanah yang tidak rata, memiliki penghalang yang berarti sehingga posisinya tidak tepat menghadap ke utara kompas. Posisinya katakanlah 9 Derajat dari arah utara yang sebenarnya. Akan muncul masalah ketika kita menyebutkan atau mengambarkan lokasi di gambar kalau kita tetap mengunakan arah utara yang sebenarnya. kenapa? karena kita harus menyertakan angka 9 derajatnya setiap penyebutkan arahnya.

Akan lebih mudah, kalau kita ganti koordinat utamanya menjadi koordinat plant, true north nya menjadi plant north. Artinya, arahnya akan tetap, namun kemudahan dalam penggambarannya lebih di utamakan. Kalau koordintanya sudah di rubah menjadi plant north, maka untuk menyebutkan lokasi building B dari building A, akan lebih mudah. Misalnya lokasi gedung B adalah 1000 meter ke arah utara dari gedung A. Atau koordiantanya adalah N0001000 E0000000, koodinat yang di hasilkan pun menjadi genap dan mudah di baca karena kita telah menentukan titk nol nya, yaitu di angka "1" dari ilustrasi gambar di samping

Isometric drawing akan penuh dengan arsiran

Masalah apa lagi kalau true north tidak di rubah menjadi plant north? yaitu pada isometric drawing. Seperti kita tau arah dari isometric drawing adalah sebuah gambar piping yang di bentuk dalam arah 60 derajat lingkaran sehingga me representasikan 3D.

Lihat gambar di samping yang merepresentasikan arah di isometeric. Selain garis vertical (atas bawah), setiap garis menunjukan arah mata angin. Kalau pipa tersebut tidak lurus dengan garis tersebut, maka pipa tersebut akan di arsir yang menandakan kalau di termpat tersebut membentuk sudut sekian derajat di isometricnya. Kalau north nya tetap di pertahanakan di arah yang sebenarnya, maka gambar yang ada di isometric nantinya akan penuh dengan arsiran karena di anggap tidak mengikuti North Sebenarnya. Oleh karenanya, lebih mudah untuk mengganti north nya menjadi north plan, dan kemudian koordinat ini di pakai dan di sepakati oleh semua disiplin dalam project tersebut.

True North Versus Plan North

Pada kesimpulan akhirnya, true north adalah arah utara kompas, arah utara sebenarnya dimana ia menunjukan arah ke kutub utara dari bumi. Sedangkan plant north adalah sebuah kesepakatan dari project untuk menyebutkan arah utara dan hanya berlaku pada project tersebut. Plant north tidak harus selalu searah dengan arah utara kompas, karena bisa jadi untuk menghidari perbukitan, mengikuti gedung yang sudah ada, mengikuti jalan atau rell kereta api yang sudah ada dimana arah utaranya tidak segaris dengan utara kompas. Atau bisa jadi tergantung dari lahan yang di miliki oleh project. Memaksakan arah utara sebenarnya, tentu akan membuat effort atau lebih banyak kerjaan yang harus di lakukan. Tujuan mengganti dari true north ke plant north tidak lain adalah untuk memudahkan ketika fase konstruksi.

Kenapa Harus PDMS atau SP3D di Piping

Sebuah pertanyaan dasar, kenapa si harus mengunakan PDMS atau SP3D ketika memodelkan piping? kenapa tidak mengunakan software lain, toh sama sama memodelkan!

Sebenarnya pertanyaan dasar bagi orang awam, yang sering sekali penulis temukan atau alami. Tidak usah jauh jauh, adik kandung penulis pun pernah menanyakan hal serupa. Secara, saudara saya adalah seseorang yang melenceng dari jurusannya, ia dari tehnik kelautan atau lebih tepat nya oceanographic. Namun karena tuntutan dapur, harus belajar ilmu arsitek untuk di terapkan di perusahaanya.

Karena belajar mengunakan Arsitek, tentu yang diperlukan adalah permodelannya. Segala sesuatu akan terlihat bagus dan menarik, kalau kita behasil memodelkannya. Kalau hanya gambar atau awang awang, tidak akan menarik sama sekali karena setiap orang punya bayangan masing masing.

Contoh Model Dalam SP3D

Lalu apa bedanya SP3D dengan permodelan lain sekelas Autocad 3D atau yang lebih dan paling sederhana, yaitu sketch-up? Kalau toh sama sama butuh model. Dua software yang disebutkan akan lebih mudah dan bahkan lebih sederhana. Tidak perlu belajar banyak banyak apalagi susah susah menghapal langkahnya.

Apa yang di cari dari SP3D dan PDMS?

Ada benar nya kalau hanya melihat dari model, tidak perlu menggunakan yang susah susah. Tapi ada sisi essential yang tidak tepat di sini. Kenapa? karena model dalam piping, tidak hanya di lihat dari sisi model saja, yaitu bentuk dan lokasinya seperti apa? melainkan perlu hal yang paling essential, yaitu MTO. MTO, atau dikenal dengan Material Take Off, adalah susunan atau list dari material apa saja yang dibutuhkan oleh piping.

Kalau sekedar modeling, dapat di gantikan dengan software lain. Namun untuk MTO, baik SP3D ataupun PDMS mampu untuk melakukan MTO. Jadi ibaratnya, sekali mendayung dua tiga pula terlampaui. Sambil Memodelkan, MTO pun dapat sekalian di ambil dari model tersebut.

Coba lihat sketch-up, Autocad 3D atau semacamnya. Ketika memodelkan, bisa tidak nantinya di extrack, oh ternyata butuh bahan baku sekian, butuh ini sekian dll. Saya yakin tidak. Kalau untuk presisi, mungkin bisa di gunakan Autocad. Oleh karenanya ia biasa di gunakan oleh industri manufacturing, namun tidak pada industri EPC.

Mengapa MTO menjadi sangat penting dalam desain? hal tersebut erat kaitanya dengan Waktu. Misal dalam desain engineering yang mengacu pada PID, bisa jadi paramter suhu, presure, flow dan lain sebagainya bisa di rubah ketika berlangsungnya desain, bisa di ganti ketika akhir akhir bahkan ketika injuritime sekalipun (maksudnya, ketika pipa itu akan di instal di lapangan, ternyata paramternya berubah). Paling mentok hanya berhubungan dengan kalkulasi oleh stress engineer, yang itu pun bisa di 'akalin' dengan jalan di rubah konfigurasi supportnya misalnya.

Apa Pengting Nya Mengumpulkan Material?

Tapi kalau MTO, tidak bisa seenaknya di rubah. Kurang satu elbow saja, pesannya bisa setengah mati. Belum lagi shipping nya, yaitu pengirimannya. Artinya, ketika kita telat memesan, bisa jadi sistem tersebut akan tertunda dalam waktu tertentu. Oleh karenanya, ada namanya First MTO, Secon MTO, thirth MTO sampai dengan Final MTO. Kita juga mengenal 30% Desain review, 60% sampai dengan 90%. tujuan peting nya apa coba? MTO, kebutuhan akan pemesanan material.

Ketika memodelkan dengan SP3D atau PDMS, maka saat itu juga program ini dapat mengambil kebutuhan materialnya. misalnya, berapa butuh sekian elbow dengan diameter 10 inch, diamter 24 inch butuh sekian elbow dan lain lain. Semua komponen fitting, piping, flange dan gasket termasuk pula bautnya, dengan mudah dapat di extrack. Asal dengan satu catatan, semua telah di modelkan. Untuk mengetahui mengenai pengambilan material, saya pernah bahas di bill of quantity material.

Bill of Material
Kenapa juga di kaitkan dengan waktu? ya karena seperti di sebutkan sebelumnya, ia butuh waktu ketika pengiriman. Belum lagi untuk pemesanan fitting dengan ukuran pipa diatas 24 inch, perlu untuk disiapakan terlebih dahulu. Barang kali ia tidak ready stok, bisa jadi karena ukurannya atau karena jumlahnya yang telewat banyak. Belum lagi dengan flange dan lain sebagainya. Telat memesan komponen, bisa jadi telat pula waktu kedatangan dan berimbas waktu peng instalan. Padahal, yang namanya project punya batas waktu. Dan bagian atau department yang mengurusi mengenai schedule ini namanya project engineer.

Apa yang dapat dilakukan PDMS SP3D selain MTO?

Selain MTO atau material, apa yang mendasar mengapa di butuhkan SP3D atau PDMS? yaitu isometric. Kedua software ini sudah built in dapat mengahasilkan isometric. Apa si piping isometric? yaitu sebuah gambar 2D yang di dalamnya terdapat gambar representasi mengenai routing pipa. Untuk lebih memahami mengenai gambar Isometric, silahkan pelajari artikel saya di Piping Isometric Drawing

Lalu muncul pertanyaan sederhana, kalau sudah di modelkan 3D, kenapa masih perlu 2D? bukanya 3D lebih tinggi daripada 2D? memang benar pernyataan tersebut, namun kurang tepat. Kenapa? karena kalau di model kita tidak dapat melihat ukurannya secara sempurna, berapa jaraknya, berapa panjangan nya, apa materialnya. Di isometric, dapat terlihat dengan jelas ukuran, paramter (presure, temprature, dencity), testing (Pneumatic & Hidrotest, Radiograpy), PWHT, Painting dll.

Piping Isometric Drawing

Isometric drawing di perlukan di lapangan

Ada sebuah terminology umum yang menyatakan bahwa "Gambar adalah bahasanya orang tehnik", dan ini benar adanya. Lewat gambar itulah kita berkomunikasi. Seorang welder, ia mengelas berdasarkan gambar. Seorang engineer, ia menghitung berhadasarkan gambar. Seorang QC, ia melakukan pengetesan berdasarkan gambar, semua satu bahasa. Yaitu gambar.

Model Navis 3D
Oleh karena itu, yang di check adalah gambarnya, bukan model nya. Memang semua seiring sejalan, model ya di lihat gambar juga di lihat. Tapi hanya berpedoman pada model, tidak akan berkontribusi banyak dalam piping. Makanya, porsi checking model paling banter hanya 3x, yaitu model review 30%, 60% dan 90%. tapi seorang checker, ia memeriksa gambar setiap saat. Makanya yang di check adalah isometric drawing, yaitu gambarnya. Model hanya membantu agar gambar terwakilkan dengan baik. 

Kemudian, ketika di lapangan seorang engineer atau contractor tidak mungkin membawa laptop. akan lebih mudah membawa drawing nya ketimbang membawa modelnya. Dan lewat SP3D atau PDMS lah drawing itu dapat di hasilkan. Lalu apakah tidak bisa menggambar manual? tentu bisa, tapi kalau untuk jaman jaman sekarang, agak nya akan memakan banyak waktu.

Kapan Manual Lebih Baik Daripada Modeling?

Lebih baik memodelkan, kemudian di extract dan akhirnya menghasilkan gambar. Lebih praktis. Namun ada kalanya, gambar manual lebih cepat di banding dengan memodelkan dengan SP3D atau PDMS. Cotoh nya adalah untuk pipeline, dimana pipa itu jalur nya sangat panjang, relatif lurus dan konturnya tidak beraturan, maka akan lebih mudah menggambar manual karena lebih cepat. Soalnya, kalau mengunakan SP3D akan ribet mengatur contur, mengatur layout, me modelkan support, slipper dan lain sebagainya. Lebih enak di gambar manual, daripada mengguankan SP3D atau PDMS.

Konfigurasi Pompa Dalam Piping Design

Dalam sebuah piping design, Tidak dapat di pungkiri akan selalu di butuhkan pompa. Kalau piping di ibaratkan aliran darah, yaitu arteri dan  vena dalam tubuh. Maka Pompa adalah jantungnya, ia sebagai pemompa darah. Tanpa pompa, maka aliran dalam sebuah plant, tidak dapat tersirkulasi.

Pengertian Pompa Adalah?

Apa si pengertian pompa? seperti kita tau, pompa adalah sebuah alat atau istilah kerennya adalah equipment mechanical yang berfungsi mengalirkan fluida pada sistem pemipaan. Fluida itu ya cairan, seperti hal nya Air dan Oli, yang carian ini kemudian di alirkan ke dalam setiap pipa baik itu piping atau pipeline.

Berbicara mengenai fluida, akan lebih panjang lagi bahasanya bagi mereka yang baru mengenyam dunia pendidikan Tehnik Mesin. Fluida itu ada yang namanya compressible dan compressible. Kalau fluidanya compressible, maka pengerak atau pengalirnya bukan pompa, melainkan kompresor. Contoh dari fluida ini adalah udara, dimana udara dapat di mampatkan atau isitilahnya compressible. Sedangkan yang non compressible itu pengeraknya pompa, yang nanti akan kita bahas di sini.

Jenis Jenis Pompa

Berbicara mengenai jenis pompa, ada pompa centrifugal, screw pump, gear pump, reciprocating pump dan lain sebagainya. Semua itu sama, sama sama pompa yang mengalirkan fluida. Yang berbeda hanya prinsip kerjanya saja, dan untuk sementara waktu tidak ingin saya bahas di artikel ini dulu.

Klasifikasi Pompa
Saya ingin membahas sebuah hal yang sederhana, seperti apa konfigurasi pompa dalam piping design. Konfirgurasi seperti apa? yaitu apa saja yang ada dalam sebuah sistem pompa dalam piping.

Mana Suction Pompa Dan Discard Pompa?

Sebelum melangkah jauh, sekarang kita test sederhana, darimana kita tau suction pompa dan discard pompa?

Loh, pertanyaan macam apa ini? ko terlalu dangkal? Tunggu dulu, setiap pertanyaan adalah pengetahuan, justru orang yang tidak mau bertanya adalah orang yang tidak mengerti, mungkin pura pura paham. Atau mengaggap sudah biasa, padahal ia tidak paham. Rasa penasaran atau curiosity adalah sumber pengetahuan.

Kenapa saya tanya hal sederhana darimana kita tau suction dan discard pompa? kalau jawabanya dari gambar, tentu anak SMP pun tau. Tapi ketika kita berada di site, atau di lapangan dan kita melihat sebuah pompa, darimana kita tau itu suction atau discard? apalagi kalau dalam masa construction, dimana arah dan tanda belum di pasang atau di cat?


Strainer Pada Pompa
Kita tau suction dan discard pompa dari konfigurasi pompa nya. Yang namanya suction, adalah aliran masuk. Ketika cairan itu masuk, apa yang di khawatirkan? yaitu sampah sampah atau scrub yang bisa jadi terbawa oleh aliran bisa masuk ke dalam pompa, oleh karenanya perlu di pasang strainer. Yaitu saringan pompa. Satu jawaban telah terjawab, suction nya adalah dimana ia terdapat strainer.

Lalu untuk discardnya? discard adalah aliran keluar, yang di takutkan di discard adalah apa coba? yaitu aliran nya balik lagi ke pompa, apalagi kalau pompa itu mati, rawan sekali aliran itu berbalik ke pompanya. Oleh karenanya, di sisi discard biasanya di instal check valve. Apa itu check valve? yaitu sebuah katup, atau kran yang hanya memungkinkan satu arah saja. Jadi arah kebalikannya tidak bisa atau terhalang.

Reducer di Pompa

Konfigurasi kedua adalah mengenai Reducer, yaitu sejenis fitting yang berfungsi untuk mengecilkan volume dari pipa. Mengenai fitting, dapat di baca sendiri di arikel saya fitting pada pipa.

Reducer yang umumnya digunakan di pompa, biasanya berjenis excentrik reducer, yaitu reducer yang memiliki garis tengah tidak simetrik. Walau tidak simetrik, ia memiliki satu kelebihan, yaitu satu sisi permukaan nya yang rata. Artikel saya sebelumnya membahas mengenai

Buttom Flat dan Top Flat Reducer

Pada dasarnya, pengunaan dan pemilihan reducer yang tepat pada pompa adalah untuk menghidari cavitasi. Untuk seperti apa reducer yang di gunakan, saya telah membahas lengkap di perbedaan eccentric reducer dengan concentric reducer

Support di pompa

Adjustable Support Pompa
Yang tidak kalah menariknya di pompa, adalah support nya. Support pertama di pompa, di pipa yang bersingungan langsung dengan pompa adalah mengunakan support berjenis Adjustable. Yaitu support yang non fix, alias bisa di setting. Seperti apa jenis support adjustable? seperti dibawah adalah contoh dari support pompa adjustable.

Lihat atau fokus ke yang berwarna merah, di sana ada susunan mur dan baut yang di kombinasikan dengan plat, itulah adjustable support. Jadi ketika di site, support tersebut dapat di naik dan turun kan sesuai kebutuhan dengan mengatur mur dan bautnya. Lalu timbul pertanyaan, kenapa di butuhkan adjustable support?

Karena ketika pompa di pasang, pipa di pasang. Pompa dan pipa tidak sarta merta dapat di gabung atau di kencangkan lewat nozzle nya. Nanti butuh orang Mechanical untuk men adjust, men setting pompanya. Agar centerline nya tepat terutama dengan driven nya, yaitu motor nya. Istilah keren nya di alignment. Ada sedikit perbedaan saja di luar toleransi, dapat meruska pompanya yang tentu artinya di sini adalah pengeluaran biaya. Ditambah, si vendor mungkin tidak dapat di claim garansi kalau cara peamsangannya kurang tepat.

Setelah pompa di alignment, tinggal pompa di satukan dengan pipa. Dan karena pompanya sudah di setting, tinggal pipanya yang menyesuaikan ketingian si pompanya dengan mengatur supportnya. Semoga sedikit coretan artikel ini dapat menambah pengetahuan mengenai Konfigurasi Pompa dalam piping design

Penggunaan Eccentric Reducer Top dan Bottom Flat

Reducer merupakan salah satu komponen fitting dari pemipaan yang berfungsi untuk merubah size dari pipa nya. Terminologi reducer, digunakan manakala perubahan terjadi dari size bear ke size yang lebih kecil, yang artinya di reduce atau di kurangi. Kalau perubahan dari kecil ke besar, biasanya di namakan expander, karena meng expand atau memperbesar. Namun pengunaan nama expand sepertinya tidak terlalu familiar, orang lebih mengunakakan nama reducer baik dari besar ke kecil atau sebaliknya.

Perbedaan Eccentric Dan Concentric Reducer

Di dalam artikel perbedaan penggunaan eccentric dan concentric reducer sudah banyak di singung, namun kali ini kita akan mencoba sedikit mendetailkannya. Sebagai flash back, di reducer kita mengenal namanya eccentric reducer dimana ia segaris atau simetris, dan satu lagi kita kenal dengan concentric reducer, ia tidak segaris centernya, tapi memilih salah satu permukaan yang rata.

Penggunaan Top Flat Reducer

Top flat reducer digunakan manakala suction dari pompa mengarah dari bawah. Atau kalau memang suctionnya dari pipa horizontal, maka reducer yang digunakana adalah top flat. Apabila konfigurasi ini pada suction nya tetap di paksakan mengunakan bottom flat atau Concentric reducer, maka yang dikhawatirkan terjadi adalah buble, udara terperangkap pada sisi atasnya.

Lalu apakah yang menyebabkan udara terperangkan pada pompa ini? apakah karen udara yang selalu berada di atas? Sehingga manakala kita mengunakan bottom flat pada pompa, udara akan terkumpul di atasnya. Saya rasa tidak, mungkin pertimbangnya lebih ke aliran fluidanya agar tidak turbulence. Namun saya belum bisa memastikan, saya pernah membacanya cuma saya lupa di mana letaknya, lain kesempatan akan coba saya perjelas.

Alasan Mengunakan Tipe Reducer Yang tepat di Pompa

Kenapa masalah air poket (udara yang terperangkap) menjadi penting? Udara yang terperangkap dapat menyebabkan suction tidak efektif, ruang yang harusnya diisi air malah diisi oleh udara terperangkap yang dapat menyebabkan pompa kekurangan daya hisap. Disamping itu, udara yang terperangkap tersebut dapat menyebabkan kafitasi yang dapat merusak pompa.

Pertanyaan sederhana, kenapa kita mengunakan reducer pada pompa? Kenapa juga engga pompanya saja yang di gedein supaya nantinya kita tidak membutuhkan reducer?. Memang secara sederhana logika ini benar, tapi mengunakan pompa dengan diameter yang cukup besar, maka dibutuhkan biaya yang lebih besar. So, salah satu jalanya adalah menggabungkan pompa yang suction nozzelnya lebih kecil, dengan pipa yang tersedia, oleh karenanya digunakanlah Eccentric Reducer.

Top Flat Eccentric Reducer Pada Steam Trap

Salah satu penggunakan reducer excentrik tipe top flat, biasanya digunakan di steam trap outlet. Ia di letakan setelah steam trap valve sebelum ke open drain. Tujuaanya untuk memastikan bawah semua buangan yang mengandung kondensat, terbuang dengan sempurna dan tidak ada yang balik lagi ke steam trap nya.


Penggunakan Bottom Flat Reducer

Pada umumnya, di dalam pipe rack mengunakan bottom flat, jarang yang mengunakan top flat. apa alasannya? karena supaya kondensat dapat mengalir sempurna ke titik terendahnya (tidak ada penghalang) di bawah pipa nya. Alasan kedua, ketika mengunakan reducer bottom  flat maka ketinggian BOP (bottom of pipe) akan sama, maka di supportnya pun akan mudah.

Reducer Top Flat Yang digunakan di Pipe Rack

Namun ada kasus tertentu karena mengunakan top flat, yaitu ketika aliran di piperack nya merupakan dua arah. Kenapa alasannya? karena alirannya dua arah, maka concern nya adalah ada udara yang terjadi atau terjebak. Manakala udara ada didalam aliran, maka sesuai dengan specific grafitinya, udara yang memiliki berat lebih ringan akan berada di atas.

Dengan ketika aliran itu mengarah ke bawah, ok udaranya pun akan mengalir ikut ke bawah. Namun ketika alirannya ke atas. maka udara akan terjebak di dalam pipa, sampai dengan titik di mana ia tidak bisa lewat lagi, tebak di mana? di reducer bottom flat. Karena udara terjebak dan apabila ia di diamkan semakin lama, maka udara ini akan berpotensi menrusak pipanya, lama kelamaan akan timbul korosi dan akhirnya leakage pada lasan. Tentu hal ini yang tidak di inginkan.

 eccentric reducer bottom flat

Baik saya akan coba jelaskan dengan gambar. Gambar di atas adalah sebuah konfigurasi pipa yang keliru dimana di mengunakan eccentric reducer tipe bottom flat di aliran dua arah di pipe rack. Kita asumsikan aliran akan mengalir dari A ke B. Ketika aliran tersebut ada udaranya, maka tidak ada masalah karena udara akan terbawa dan ikut jatuh sampai ke B (garis warna biru).

Namun ketika aliran itu berbalik, yaitu dari B ke A. Maka apabila ada udara, udaranya akan terbawa sampai ke atas melewati elbow permata (dekat dengan B). Sampai di sini udara akan berada di atas, dan terus mengikuti aliran dari B ke A, alirannya tetap bisa masuk atau naik walaupun ada reducer, sekalipun mengecil. Tapi udaranya tetap berada di ujung reducer (di tempat diameter terbesar) dan ia terjebak disana. Kenapa? karena diamter setelahnya kecil, jadi hanya aliran yang bisa masuk, udara tetap tinggal di sana karena sisi inilah yang paling tinggi bagi udara. Di banding dengan setelah reducer, maka sisi di sini yang lebih tinggi dan disinilah udara akan tetap tertinggal. Sekalipun ada aliran kembali dari A ke B, udara di sini (di ilustrasikan dengan garis elips warna hijau) akan tetap tertinggal, karena ia berada di atas maka ia tidak terdorong oleh aliran dari A ke B, karena posisinya berada di atas.

eccentric reducer tipe top flat di pipe rack

Pengecualian Top Flat Reducer di Pipe Rack

Untuk jarak atau routing pipa yang pendek, tipe top flat ini cukup baik untuk aliran yang dua arah. Namun ketika pipanya cukup panjang, maka mau tidak mau harus mengunakan botom flat. Loh kalau mengunakan bottom flat berarti ada udara yang terjebak lagi dong? gimana si, jadi ga konsisten dong?

Bener, memang ada kemungkinan udara terjebak. Tapi tidak cukup sampai situ saja. udara yang terjebak tersebut bisa di keluarkan dengan bantuan HPV, higt point vent. Konfigurasi yang bisa melepaskan udara, yaitu di letakan pada posisi yang paling tinggi dari konfigurasi pipa.

Lalu kenapa masih mengunakan atau memaksa dengan bottom flat ketika aliran tersebut panjang? alasannya, seperti yang pernah saya bahas di perbedaan penggunaan eccentric dan concentric reducer.
Ketika mengunakan top flat, maka akan terjadi perbedaan BOP, bottom of pipe, yaitu permukaan pipa yang paling bawah dimana nantinya pipa akan di support. Kalau pipanya pendek, kita bisa mengunakan shim di beberapa tempat. Tapi kalau pipanya cukup panjang, pengunaan shim plat yang terlalu banyak tidak efektif, lagi juga jadi tidak rapih pipanya karena harus di ganjel.Semoga penjelasan singkat ini makin menambah pemahaman mengenai eccentric reducer top flat dan bottom flat